Di pagi berkabut di kaki bukit, suara gendang di tabuh bukan untuk pesta, tapi untuk memenaggil hari ini adalah hari ngihit pamun. Seluruh masyarakat laki-laki perempuan, tua muda berkumpul di pinggir hutan di depan mereka terbaring kayu kayu raksasa hasil pilihan alam, seorang depati mengucapkan doa, lalu tali rotan diikatkan Dengan satu aba-aba semua menarik bersama. Keringat bercampur tawa. Kayu berat bergerak perlahan meninggalkan hutan menuju kampung untuk membangun rumah bularik yang menjadi saksi hidup keluarga.

Di sini rumah atau bangunan lain tidak dibangun dengan pukulan kayu saja tapi dengan tenaga dan doa seluruh dusun. Ngihit pamun adalah tradisi adat gotong royong masyarakat suku kerinci dalam proses pendirian rumah atau bangunan lainnya. Istilah ngihit pamun berasal dari kata “Ngihit” yang berarti menarik dan “Pamun” berarti ramuan kayu sebagai bahan utama bangunan. Tradisi ini di kategorikan dalam upacara adat “Cupak gantang gawe kerapat” yaitu upcara adat yang berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Nilai utama terkandung adalah nilai kebersamaan solidaritas sosial dan pelestarian kearifan lokal.
Inilah kecamatan danau kerinci dengan kearifan lokalnya “Ngihit pamun”
. . .
© Ditulis oleh Musmulyadi